UU no 3 tahun 2014 tentang perindustrian – Pengawasan dan Pengendalian

UU 3 tahun 2014 tentang Perindustrian memiliki dasar pertimbangan bahwa pembangunan nasional di bidang ekonomi dilaksanakan dalam rangka menciptakan struktur ekonomi yang kukuh melalui pembangunan industri yang maju sebagai motor penggerak ekonomi yang didukung oleh kekuatan dan kemampuan sumber daya yang tangguh, pembangunan industri yang maju diwujudkan melalui penguatan struktur Industri yang mandiri, sehat, dan berdaya saing, dengan mendayagunakan sumber daya secara optimal dan efisien, serta mendorong perkembangan industri ke seluruh wilayah Indonesia dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional yang berlandaskan pada kerakyatan, keadilan, dan nilai-nilai luhur budaya bangsa dengan mengutamakan kepentingan nasional.

Dengan pertimbangan tersebut diatas, maka Undang-undang (UU) nomor 3 tahun 2014 tentang perindustrian ini disahkan dan mulai berlaku pada tanggal 15 September 2014Undang-Undang Nomor 3 tahun 2014 tentang Perindustrian mencabut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian. Sehubungan dengan hal tersebut Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1984 tentang Perindustrian sudah tidak sesuai dengan perubahan paradigma pembangunan industri sehingga perlu diganti dengan undang-undang yang baru.

Undang no 3 tahun 2014 tentang perindustrian mengatur semua pokok penting dalam pengembangan perindustrian, bukan saja pembangunan dan pembinaan industri tetapi juga pengawasan dan pengendalian industri, Aturan – aturan terkait pengawasan dan pengendalian perlu diberlakukan agar industri yang berkembang tidak saling mengganggu satu sama lain, ataupun mengganggu kingkungan sekitarnya. Berikut adalah pasal = pasal yang terkait dengan pengawasan dan pengendalian

Bagi yang mau download UU no 3 tahun 2014 dapat didownload DISINI

Lingkungan Industri Kecil Sidoarjo Wajib Masker

Beberapa bulan belakangan, fenomena pandemic virus corona (Covid-19) menjadi ancaman besar bagi masyarakat di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, covid-19 telah menyebar ke 34 provinsi, 489 kabupaten / kota. Sampai tanggal 9 September 2020, dilaporkan jumlah kasus covid di Indonesia berjumlah 203.342 kasus, dimana 8.336 orang meninggal dunia. Di Jawa Timur, kasus Covid dilaporkan mencapai 36.712 kasus, dengan jumlah korban meninggal sebanyak 2.646 orang.  Karena itu, pemerintah telah meminta semua orang tanpa memandang kelas usia, diminta untuk tetap tinggal di rumah demi memotong rantai persebaran virus corona penyebab Covid-19. Hal ini telah berdampak pada stabilitas ekonomi, karena masyarakat tidak dapat melaksanakan kegiatan ekonomi secara optimal, bahkan terhenti sama sekali.

Untuk mengembalikan pertumbuhan ekonomi, maka perekonomian Pemerintah kemudian menetapkan new normal, dimana masyarakat terutama yang berusia dibawah 45 tahun diibolehkan untuk kembali menjalankan aktivitas secara normal namun ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19. Hal ini merupakan salah satu cara untuk menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.

Protokol kesehatan yang ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19,  diantaranya adalah menjaga kebersihan tangan, penerapan etika batuk, pakai masker, jaga jarak dan isolasi mandiri bagi yang sakit. Dimana untuk pelaksanaan new normal diharapkan, semua sektor perekonmian dapat melaksanakan dengan baik, termasuk sektor industri.

Dimana Lingkungan Industri Kecil Sidoarjo, sebagai salah satu kawasan industri yang memberikan kontribusi dalam pertumbuhan sektor industri Di Jawa Timur, juga diwajibkan melaksanakan new normal. Pelaksanaan new normal sudah disosialisasikan oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan melalui UPTI Logam dan Perekayasaan sidoarjo melalui surat maupun melalui kunjungan pada beberapa pelaku usaha.

Mengingat pentingnya pelaksanaan new normal, dimana para karyawan di kawasan Lingkungan Industri Kecil dapat tetap bekerja namun dengan penerapan protokol kesehatan untuk pencegahan penularan covid-19 maka Lingkungan Industri  Kecil Sidoarjo perlu dicanangkan sebagai Kawasan Wajib Masker. Terkait dengan pencanangan tersebut, maka pada tanggal 14 September 2020, dilakukan pembagian masker pada siapapun yang masuk kawasan LIK tanpa menggunakan masker dan juga pembagian hand sanitizer. Masih dalam rangka new normall, juga akan dilakukan pengukuran suhu dengan thermal gun bagi siapapun yang masuk dalam kawasan LIK, penyemprotan disinfektan di perusahaan, pemasangan spanduk kawasan wajib masker, pemasangan baliho dan leaflet protokol pencegahan penyebaran covid – 19

Terkait dengan pelaksanaan  new normal, maka diharapkan 58 IKM yang berada dalam kawasan Lingkungan Industri Kecil Sidoarjo, dapat menerapkan protokoler pencegahan covid-19 di lingkungan perusahaannya masing – masing. Para pemilik / manager perusahaan diharapkan  juga mensosialisasikan prokoler tersebut, sesuai leaflet yang terpasang di perusahaan masing – masing, pada semua karyawan. Sehingga 400 karyawan yang bekerja LIK, diharapkan terhindar dari covid -19 dan dapat membantu perusahaan secara maksimal dalam melakukan produksi.

Melalui pencanangan kawasan Lingkungan Industrri Kecil sebagai kawasan wajib masker dapat meningkatkan kesadaran dan kemauan kita dalam melaksanakan protokoler kesehatan untuk melindungi tenaga kerja dan lingkungan rumah maupun kerja, dari wabah covid-19.  Dan kegiatan ini merupakan suatu upaya yang perlu didukung bersama – sama, agar karyawan tetap bekerja untuk menjalankan roda ekonomi dengan tetap menjalankan protokoler kesehatan.

Asean Australia New Zealand Free Trade Area (AANZFTA) merupakan awal baru dalam perdagangan internasional negara – negara Asean

Setelah Asean Free Trade Area benar – benar terlaksana pada 1 Januari 2003,  konsumen – konsumen di negara-negara Asean dapat mengkonsumsi produk-produk asean dengan harga yang relatif murah jika dibandingkan dengan produk impor lainnya. Dengan AANZFTA, maka konsumen negara -negara ASEAN akan semakin merasakan manfaatnya, karena beberapa produk dari Australia seperti susu, barang elektronik dan lainnya dapat dikonsumsi dengan harga yang relatif murah karena pemberlakukan 0 tarif.

Apakah kondisi ini akan menjadi suatu hal yang menakutkan bagi industri di tanah air?.  Tentu tidak karena justru dengan perjanjian perdagangan ini, maka industri Indonesia diuntungkan karena memiliki peluang ekspor yang besar ke Australia. Adanya ketakutan Apindo ataupun pengusaha peternakan bahwa mereka belum siap untuk menghadapi AANZFTA memang merupakan suatu hal yang perlu dipertimbangkan oleh pemerintah tapi bukan suatu halangan untuk menghindarkan diri dari perjanjian ini. Adanya kekhawatiran tentang ketidaksiapan industri dalam menghadapi pasar bebas, bukan baru kali ini terjadi. Pada awal penerapan AFTApun, para pengusaha tidak dapat menerima kebijakan pemerintah tersebut.  Akan tetapi seiringnya waktu, dunia usaha Indonesia dapat mengatasi hal ini.

Untuk itu adanya kekhawatiran sebagain dunia usaha bahwa mereka tidak akan mendapatkan keuntungan dalam AANZFTA merupakan suatu hal yang berlebihan. Ketakutan yang terjadi disebabkan karena adanya ketidak mampuan dunia industri dalam menghadapi persaingan internasional (infant industri). Infant industri ini, meskipun ditunggupun tidak akan pernah siap untuk menghadapi persaingan internasional karena tidak memiliki keinginan untuk mengubah daya saingnya.

Dengan AANZFTA justru merupakan moment yang tepat bagi Industri Indonesia untuk meningkatkan produktivitas, efesiensi dan efektivitas produksi sehingga mampu mencapai competitive advantage. Hanya industri yang memiliki competitive advantagelah yang mampu bertahan dalam persaingan internasional. Dimasa globalisasi ini, seluruh struktur industri dituntut untuk berpikir global, dimana mereka harus menyadari bahwa mereka hidup di dunia dengan berbagai macam manusia, budaya dan kebutuhan yang harus dijadikan peluang untuk meningkatkan usahanya. Perdagangan global tidak dapat dihindari karena ia bagaikan air bah yang dapat menghanyutkan industri kita, untuk itulah industri harus mampu mencapai competitive advantage untuk menghadapi air bah tersebut, yaitu dengan menghasilkan barang yang sama kepada konsumen tapi dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan pesaingnya ataupun memberikan mutu yang lebih baik kepada konsumen pada harga produk yang sama dengan pesaingnnya.