NOVEL Warisan Berharga

Spread the love

Bab 1

Kali pertama membuka mata, terasa kosong.Bukan saja memandang ruangan yang kosong, tiada siapapun selain tubuhku yang terbaring diatas tempat tidur. Tetapi juga pikiran yang kosong, karena aku tidak ingat siapa diriku,  siapa  keluargaku. Dilihat dari  ruangan yang serba putih, mungkin ini suatu ruangan di rumah sakit. Kenapa aku bisa berada di rumah sakit. Apa penyebab aku berada di rumah sakit dan hilang ingatan. Memikir semua itu, membuat kepalaku terasa berat. Aku mencoba membalikkan badankku ke kanan, tetapi leherku terasa berat. Akhirnya aku hanya bisa tidur terlentang, menunggu siapapun yang akan datang dan menolongku menjawab semua pertanyaanku. Begitulah aku berharap.

Semua pertanyaan itu akhirnya dijawab oleh seorang dokter. Ya, tidak berapa lama aku sadar, seorang suster jaga yang masuk untuk memeriksa kondisiku, terkejut melihat mataku yang terbuka dan segera memanggil dokter.  Aku disapa dengan nama Rafiq, aku masuk ke rumah sakit karena kecelakaan tunggal, yang menyebabkan aku koma selama 14 bulan. Ayah ibuku masih ada, dan mereka sedang dalam perjalanan, untuk menemuiku.

Saat sedang mendapatkan perawatan, pintu ruangan terbuka dan masuklah sepasang suami istriku. Sang perempuan, menangis histeris, memelukku sambal berteriak “Rafq, Rafiq anakku”. Sang suami tak kalah terharu, sambal menitikkan airmata, dia berkata “nak, kami  hampir putus asa menunggu sadar, Alhamdulillah dengan kebesaran Allah, hari ini kamu sadar nak”. Namun aku tidak bereaksi, karena aku sama sekali tidak mengenali mereka. Keduanya mulai merasa aneh dan mulai panik, karena aku tak bereaksi. Sang wanita sambal menangis bertanya pada dokter ‘apa yang terjadi dokter?, kenapa Rafiq seperti tidak mengenal kami”. ”tenang ibu, mari ikut bersama saya. Suster selesaikan perawatannya ya”.

Setelah kembali dari ruangan dokter, sepasang suami  istri itu terlihat lebih tenang. Kedua mendekatiku. Sang  istri kemudian memegang tanganku dan sambal menahan tangis berkata “Namamu Rafiq Ilham, itulah nama yang kami berikan padamu. Aku Herlina, ibumu. Ini ayahmu, Lukman Farid. Sang bapak menatapku sambal mengangguk kecil. “Kamu anak tunggal, saat ini usimu, 29 tahun. Kamu seorang pemimpin perusahaan, dan saat ini kita tinggal di Jakarta”. Saat wanita yang mengaku ibuku akan melanjutkan ceritanya, ayahku berkata “Sudah cukup ma, ingat kata dokter tadi, kita harus  mengingatkannya secara perlahan – lahan”.

Lelaki yang mengaku sebagai ayaku kemudian berkata ‘kamu pulang ya ma, istirahat di rumah. Biar aku yang disini menjaga Rafiq malam ini. Besok pagi baru mama kesinilah lagi. Ibuku mencoba menentang ayahku dengan berkata “ngga Pa, saya ingin disini bersama Rafiq, kita berdua akan menjaganya”. Ayah dengan lembut berkata”ingat kata dokter ma, Rafiq baru sadar dan tidak boleh menerima reaksi yang berlebihan. Pulang ya ma”. Akhirnya Ibu mengalah, “Rafiq sayang, ibu pulang ya. Cepat sembuh ya nak, love you”.  Aku mencoba tersenyum untuk pertama kalinya setelah sadar. Pasti senyumanku aneh, tapi setidaknya aku sudah berusaha untuk merespon dengan baik.

Setelah ibuku pulang ayahku medekati tempat tidurku, merapikan bantal dan berkata ‘tidurlah nak, atau mau makan sesuatu? Ayah belikan”. Aku hanya menggeleng sambil tersenyum. Aku kembali membaringkan  tubuhku, dengan rasa sukur yang tak terhingga, karena diberi kesempatan kedua. Kutatap wajah pria tua, ayahku, yang sedang berusaha menidurkan dirinya diatas sofa. Aku berjanji dalam hati untuk selalu menyenangkan hati kedua orang tuaku. Aku menyadari, bahwa kesadaranku kembali pasti karena doa doa meraka, dan doa doa orang – orang baik lainnya, yang masih menginginkan aku terus hidup.

Saat akan merebahkan diri, terasa batang leherku  bagian belakang sakit. Ternyata benar, akau mengalami kecelakaan yang  parah, sehingga tidak ada harapan untuk hidup. Luka paruh yang memanjang dari kepala ke leher merupakan bukti parahnya kecelakaan tersebut. Apa yang aku lakukan sehingga bisa mengalami kecelakaan separah itu. Kecelekaan yang mengakibatkan aku koma selama 14 bulan dan saat sadarpun masih mengalami retrograde amnesia. Ya itulah penjelasan dokter tadi. Dan kondisi ini tidak dapat dipastikan berapa lama, apakah seminggun, sebulan, setahun atau seumur hidupku.

Sudah 2 minggu berlalu. Aku masih di rumah sakit. Dengan kondisi yang masih sama kosong. Ya, aku merasakan seperti terlahir kembali, karena tidak ada sepeninggal ceritapun yang tersisa dari 27 tahun kehidupanku. Setiap hari, ibu dan ayahku datang dan membagikan cerita cerita yang hilang dari memoriku selama 27 tahun. Tapi harus dilakukan secara perlahan. Jadi ibuku membawakan foto masa batita, balita dan TK dalam 2 minggu terakhir. Apa yang kuingat, kosong……… Cerita ibu bagaikan mengisi suatu buku yang kosong, bagaikan merestore data pada  sebuah laptop yang rusak. Namun, apa yang ku rasakan, tetap ………kosong.

Ibu juga membawakan beberapa buku, namun disesuaikan dengan saran dokter bahwa buku yang diberikan masih bersifat bacaan yang ringan karena aku belum boleh berpikir keras. Sebuah HP juga dibawa. Aku berharap bahwa itu adalah HP lama, sehingga aku bisa mengingat teman lamaku, dana apa yang kulakukan di masa laluku. Sayangku, ibuku mengatakan bahwa HPku ikut rusak dalam kecelakaan tersebut. Apa yang kurasakan, kecewa tentu saja. Karena sebagian besar cerita kita, siapa teman kita, apa yang sudah kita lakukan, apa yang sudah kita lewati berada dalam memori HP. Yang aku harapkan, adalah  masa laluku baik, sehingga dihargai oleh banyak orang.

Minggu ketiga, seorang wanita tua yang duduk dikursi roda, didorong masuk ke ruang rawatku. Senyumnya  menyeduhkan. Dia dorong merapat ke tempat tidurku. Setelah cukup dekat untuk menyentuhku, kursinya rodanya dihentika. Aku berusaha duduk. Yak arena terlalu lama koma, ototku menjadi kaku saat digerakkan.

“Ham, apa kabarmu sayang” Dia panggil aku”Ham” sambal memegang tanganku dia berkata “kamu akan baik baik saja. Kamu pasti bertanya tanya siapa aku. Aku Laila, nenek dari pihak ibumu. Panggil saja aku eyang. Aku sudah mendengar semua cerita dari ibumu, kita semua akan mendukungmu untuk sembuh”.

“Eyang, adakah suatu cerita yang bisa membuatku mengingat kembali?”

Sambil mengusaptanganku, dia menjawab “Banyak kisah yang kamu milki, jika Allah menghendaki, maka semua ingatanmu akan kembali. Jika Allah tidak menghendaki, maka semuanya akan menjadi memori yang hilang. Dan itu pasti lebih baik bagimu, karena Allah memberikan yang terbaik buat kita, bukan memberikan apa yang kita butuhkan”

“Cepat sembuh ya Ham, Eyang selalu menunggu kunjunganmu ke rumah. Nenek akan menyediakan makanan kesukaanmu”.

‘Eyang, apakah aku sudah menikah?,

“Kenapa kamu bertanya demikian”

Karena selama saya tertidur, terasa ada seorang wanita yang hadir disisiku dalam keadaan hamil, dan membawa tanganku untuk membelai perutnya. Dia selalu membisikkan kata kata, cepatlah sadar, kami mengharapkan kesembuhanmu, meskipun kamu tidak menharapkan kami”.

“Itu hanya ilusi saat kamu koma. Ini Eyang bawakan kamu rendang ayam. Eyang suapin ya”

Mingguku berikutnya, ibuku datang membawa seorang wanita cantik, yang bernama Rista, yang diperkenalkan sebagai tunanganku. Kuakui, dia cantik. Tapi benarkah aku bertunangan dengan wanita centil yang berpakaian kurang bahan ini. Aku percaya ibuku, tidak mungkin bohong, mungkin kehidupanku sebelum koma memperkenankan untuk bertunangan dengan wanita seperti ini. Tapi untuk saat ini, entahlah. Ibuku terlihat sangat akrab, dengannya, sementara dia sangat manja pada ibu.

“Ibu tinggalkan kalian berdua sebentar ke kantin ya, ada yang kalian mau pesan?

“Rista boleh pesan minuman dingin ngga ma?, apa saja boleh”

“Boleh dong calon menantu mama” “Rafiq mau pesan apa nak?”

“Mas Rafiq khan suka lemon tea dingin ma, ya khan mas?” Rista menatapku untuk mendapatkan pembenaran. Bagaimana aku bisa menjawabnya kalua apa yang aku sukapun, aku tak ingat. Menyedihkan bukan

“Boleh ma,”

“Mama jalan, kalian yang rukun ya”

“Siap ma, Riska temanin mas Rafiq ya”. “Gimana rasanya Mas Rafiq, sudah baikan?”

“Lebih baik dari kemarin, minggu depan mungkin aku sudah keluar”

“Ohh senangnya, nanti Rista  ajak jalan jalan ya, biar mas cepat sembuh”. Rista ingin memegang tanganku, namun cepat cepat ku tarik

‘Kenapa mas Rafiq, apa mas Rafiq lupa padaku?”

“Jangankan kamu Rista, orang tuaku, ibu yang melahirkankupun aku tak ingat”

“Jangan katakana kamu melupakan aku dan cinta kita mas, kalua itu terjadi maka akan membunuhnya”

“Membunuhnya????  Membunuh siapa Rista?”

“Ngga ngga Mas Rafiq, aku hanya bercanda”

“Bercanda? Apakah membunuh orang itu termasuk candaan?, mungkin karena aku baru sadar dari koma, jadi belum tahu kalimat mana yang benar dan mana yang bercanda”

“Kamu  benar  mas, kita akan sering betemu, dan saling bercanda. Kamu banyak belajar kalimat candaan setelah ini”

Setelah Ibunya dan Rista pulang, Aku berpikir siapakah wanita hamil yang datang dalam mimpiku?, apakah dia Rista? Kalau dia Rista, maka aku seorang laki laki yang  bejat. Suka atau tidak aku harus bertanggung jawab. Akan saya cari perlahan lahan berbagai informasi hubungan antara aku dan Rista. Meskipun pada pandangan pertama, aku tidak simpatik padanya, tapi aku harus bergantung jawab atas semua perbuatanku. Memikirnya membuat kepala menjadi pusing.

BAB 2

Sudah seminggu, aku di rumah namun pergerakanku masih terbatas, hanya sebatas kamar, kamar mandi dan balkon. Makanan masih dibawah ke kamar, karena otot kakiku belum kuat untuk berjalan, apalagi naik dan turun tangga.  Untuk melatih otot kakiku, sesekali ayah, mendampingi turun ke ruang tengah dan menonton tv disana. Saat ini, aku bukan saja melatih otot ototku untuk bergerak tetapi aku juga melatih pikiranku. Meskipun, aku belum mengingat apapun, namun apa yang kulihat di kamar, sudah bisa menunukkan siapa aku sebelum kecelakaan itu terjadi.

Dinding kamar, dengan pola garis hitam putih vertical. Warna hitam ini menunjukkan  karakter yang kuat dan berkemauan keras, memiliki keberanian untuk mewujudkan keinginan dan tak ragu untuk meraih kekuasaan. Apakah aku memiliki karakter itu.  Sementara penyuka warna putih dikenal sebagai pribadi yang rapi, sederhana, tenang dan optimis. Ini bisa diterima, aku masih mampu sadar dari setelah 14 bulan koma, adalah karena rasa optimis. Rapi, ya…., karena kamarku terlihat rapi. Tapi begitu lama aku koma,  pasti kamar ini dirapikan oleh ibu atau mbok Imah. Apakah saat kecelakaan itu terjadi, aku tinggal di rumah ini ataukah ditempat lain. Begitu banyak pertanyaan, yang belum terjawab.

Tidak banyak perabot ataupun hiasan dikamarku, ini sesuai karakter penyuka warna putih yaitu sederhana. Dinding yang berseberang dengan pintu, terdapat lemari jati 3 pintu. Dinding depan posisi tempat tidur, ditempati lemari hias, yang dilengkapi dengan TV, videoplayer dan beberapa buku yang disusun dengan rapi. Dinding antara pintu kamar dan pintu kearah balkon terdapat meja kerja yang cukup besar. Berarti sebelum kecelakaan itu, aku sering memanfaatkan meja tersebut untuk bekerja saat aku di rumah. Yang cukup menyita perhatian adalah gitar  ditempatkan antara meja kerja dan pintu balkon. Apa aku bisa main gitar, lagu  apa yang aku suka. Mungkin suatu saat harus mencobanya. Saat ini aku sama sekali tidak mengingatnya.

Beberapa foto yang tergantung didinding kamarku, juga memberikan informasi seperti apa dulunya. Saat wisuda SMP aku diapit oleh ayah, ibu, eyang dan seorang lelaki tua. Itu pasti kakekku, tapi dimana dia? Kemana dia tidak datang saat eyang mengunjungi di rumah sakit. Foto wisuda SMA, aku diapit oleh ayah ibu, dan ada seorang gadis juga kedua orang tuanya. Dia terlihat seperti Rista. Apakah dia Rista?, kalau iya berarti kami sudah bersahabat sejak SMA.  Foto berikutnya, aku diapit oleh ayah ibu dan Rista. Apakah kami sudah lama bertunangan?, pada usia brapa kami bertunangan. Kenapa kami belum menikah, kalau kami sudah lama bertunangan. Pada foto berikutnya adalah foto saat aku bersalaman dengan seorang pria bule.  Apakah itu wisuda S2?, dimanakah aku kuliah S2, apakah diluar negeri?. Berbagai pertanyaan terbersit tetapi tak satupun terjawab. “Sabar Rafiq, kau akan mengetahuinya nanti. Pelan pelan saja”, aku coba menybarkan diriku sendiri

Saat sedang melihat buku-buku yang tertata rapi di lemari hias, pintu kamarku diketok  “Masuk” 

“Rafig, dibawah ada Rista, apa mau turun atau Rista yang  naik ke sini?”

“Rista saja Bu, yang naik, kebetulan ada beberapa hal yang ingin Rafiq tanyakan. “ “Pelan – pelan saja ya nak, jangan terburu-buru, agar memorimu dapat bekerja dengan baik”

“Iya Bu, trims … love you”

“Love you too”

Ibu kembali ke bawah, dan tidak berapa lama, datang dengan Rista.

Sambil menaruh jari tengah didagunya ibu berkata “Rista, tante tinggal ya, ingat pesan tante ya”

“Siap laksanakan tant” Rista menjawab  sambal tersenyum lebar

“Duduk di balkon yok Ris”

Tanpa menjawab, Rista langsung menuju balkon dan duduk pada salah satu kursi disana.

“Sama siapa kesini Ris”

“Sendiri”

“Kamu kalua jalan kemana kemana biasanya sendiri ya?’

“Iya sejak kamu kecelakaan. Sebelumnya kan kamu yang selalu menjemput aku”

“Oya? Sorry, aku sama sekali tidak ingat”

“Ngga apa apa Fiq, yang penting sekarang kamu sudah sembuh. Aku senang sekali bisa bersama sama dengan kamu lagi”.

“Ris, apa kita sudah lama  berteman ya? Bisa tolong ceritakan awal kita bertemu sampai kecelakaan itu terjadi”

“ Boleh sekali, kita bertemu saat kita SMA. Kita bersekolah di SMA yang sama, beda jurusan, Kamu IPA, dan aku IPS. Saat, ada pertemuan orang tua murid, disitu, mamamu dan mamaku bertemu. Ternyata mereka sahabat akrab saat SMA. Saat itu, kita berdua mulai berteman dan sangat dekat saat SMA. Kita sering jalan jalan berdua. Saat kuliah, kita juga  kita semakin dekat”.  Saling menunduk Rista meneruskan “dan …… saling …… mencintai. Kita selalu menghabiskan waktu berdua”. Kembali menatapku dia meneruskan “dan orang tua kita menyetujuinya. Kamu selesai S1 duluan dari aku, kemudian kamu melanjutkan pendidikan keluar negeri. Sebelum kamu, berangkat, kita bertunangan”.

“Tahun brapa itu”

“Juli 2015”

“Itu 5 tahun lalu. Kalau  kita bertunangan 5 tahun lalau, kenapa kita belum menikah”

“Kenapa kita belum menikah?, ehhhh kita belum menikahhhh …………. Sebab ………….. saat kamu belum selesai kuliah’ berpikir sebentar “oo satu lagi, kamu belum mau karena masih mau mengembangkan perusahaan …….. iya ……. Kamu masih mau mengembangkan perusahaan”

Ibu muncul dari pintu kmara, dan menemui kami berdua

“Lagi ngomongin apa nih berdua, serius amat” dengan mimik menggoda

“orang yang lagi pacarn, begini ya malu malu” sambal tertawa

“Engga tante, Rista sedang menceritakan tentang pertemuan pertama kali dengan Fariq tante”

“Sampai mana ceritanya?”

“Sampai tunangan tante”

“OO gitu, cukup kali ceritanya ya, nanti bisa disambung lagi. Ayo temanin tante belanja”

“Boleh tante”

{Fariq, Ibu sama Rista pergi ya, hati – hati ya dirumah, kalua perlu sesuatu panggil mbok Imah saja. Jangan turun ya, kakimu belum kuat”

“Iya bu, Fariq mau lihat – lihat buku lamanya Fariq”

“Ok kita tinggal ya nak”

“Fiq jalan ya, bye sayang”

Sepeninggal Ibu dan Rista, aku kembali ke kamar dan kembali  memeriksa buku yang tertata I lemari hias. Ada buku buku, desian konstruksi, bebera buku bisnis, beberapa novel dan buku kisah kehidupan tokoh dunia. Kebanyakan  novel yang dimiliki tersebut adalah karya Tere Liye dan Sherloch Holmes. Aku menarik salah satu, karya Tere Liye yaitu Rembulan Tenggelam Di Wajahmu. Setelah membaca synopsis, dari novel ini, kemudian aku membuka lembaran pertama, ada tulisan tangan pada lembar tersebut

“Bukan kebahagiaan yang membuat kita bersyukur, tapi bersyukurlah yang membuat kita bahagia”

                                RS

Mungkin buku ini pemberian Rista. Siapa nama lengkap Rista, mungkin Rista Sari, Atau Rista Shalbia. Ahhh, siapun namanya, yang penting aku  bisa memiliki buku ini.Akan kusampaikan terima kasih saat, bertemu lagi.  Saat ini aku masih melupakan cintaku pada Rista, malah melihat dandangannya yang memakai pakaian kurang kain, membuatku merasa rishi, namun aku tau perhatiannya padaku sangat besar. Buku ini salah satu buktinya. Semoga aku bisa segera mengingat semuanya.

Sampai sore ibu belum pulang, Aku keluar dari kamar dan turun ke dapur mencari mbok Imah. Hitung hitung melati otot kaki agar cepat pulih. Melewati ruang tengah, aku melihat foto keluarga besar. Sepertinya, yang srdang duduk di kursi besar adalah kakek dan nenek. Di belakang berdiri ayah dan ibu, seorang lelaki dan perempuan. Disamping kiri dan kanan kakek, berdiri seorang anak lelaki dan perempuan.  Anak lelaki, sepertinya aku sendiri, siapakah anak perempuan itu, apakah saudaraku?. Apa aku punya saudara perempuan” lalu dimana dia? Dan siapakah lelaki dan perempuan yang berdiri disamping ayah dan ibu? Aku terlalu focus pada foto tersebut samapi tidak menyadri kehadiran mbok Imah disamping

“Den”  sambal menepuk pundakku  “Aduhh mbok, kaget aku” sambal memegang dadaku

“Serius amat Den”

“O iya mbok, pria dan wanita yang berdiri di samping ayah dan ibu siapa ya?, dan anak perempuan yang difoto itu juga siapa? ‘

“oo itu biar nyonya atau tuan saja yang menjelaskan. Tugas saya meladeni aden. Apa Aden mau makan”

“ahh tau saja mbok imah ini, apa mbok imah punya Indra keenam?”

“Wah aden, Indra itu ponaanku dikampung tapi Cuma satu, ngga pake keenam keeanm gitu”.

Sambil tertawa aku duduk di kursi makan. “Makan ya mbok”  “Siap Ade”

“Wah kaya tentara saja nihh, pake siap siap”.

“Iya den, biar kelihatan gaul gitu”

“Bisa juga Mbok Imah Ina”

Suara bell, menghentikan obrolan kami. Mbok Imah bergegas membukakan pintu untuk Ibu yang baru saja pulang dari  mall.  

BAB 3

Sebulan sudah, aku di rumah. Semua bagian rumah sudah saya lihat. Di halaman belakang, ada kolam ikan, taman bunga kecil yang menarik untuk dilihat dan dipojok taman ada ayunan, yang terletak dekat gazebo.  Kata ibu, itulah tempat favoritku saat aku kecil. Tiada hari tanpa mendatangi  tempat itu. Ruang tengah yang cukup luas, dengan 2 pasang sofa. Dindingnya dihiasi oleh foto foto keluarga. Juga ada foto pernikahan ayah dan ibu. Di ruangan ini merupakan tempat bersantai dan menonton TV, karena itulah di dinding tengah terdapat sebuah televisi  ukuran 120 cm yang diletakkan diatas lemari hias.

Ruangan ini benar benar menjadi tempat favoritku, bukan saja sebelum aku koma dan kehilangan ingatan, tetapi juga saat Ini. Hampir setiap hari aku selalu duduk disini untuk membaca buku, menonton tv ataupun berkumpul dengan ayah dan ibu. Selain itu banyaknya foto yang terpampang didinding, selalu menimbulkan pertanyaan yang dapat dibahas dengan ayah dan ibu. Salah satunya adalah foto dengan kakek dan nenek, om Syarif dan Tante Winda, dengan putri mereka Aprilia. Begitulah yang ayah dan ibu ceritakan. 

Hari ini, eyang datang. Senang rasanya bila dikunjungi eyang. Kami semua sedang duduk di ruang tengah, ketika eyang mulai bercerita padaku “Rafiq, eyang mau cerita. Eyang punya 2 orang anak yaitu ibumu dan Om Syarif. Nenek berharap memiliki cucu lebih dari 2 tetapi ternyata Eyang juga hanya memiliki 2 orang cucu yaitu kamu dan Aprilia. Eyang dan kakek sangat menyayangi kalian berdua”. Aku merasa aneh dengan situasi ini. Sepertinya kami juga pernah berada di rungan ini dengan pokok bahasan yang sama, ya aku dan Aprilia. Ya tentu saja karena dia sepupuku. “Karena itulah eyang dan kakek, selalu menginginkan yang terbaik untuk kalian berdua. Kamu akan bertemu dengannya saat kamu mulai bekerja, saat ini Aprilia masih sibuk mengurusi kantor sehingga tak sempat mengunjungimu”.

“tahun brapa foto itu diambil”

“kalau tidak salah 22 tahun yang lalu”

“benar pa, 22 tahun yang lalu,mama ingat benar karena saat itu Aprilia baru ……….”

“Jangan teruskan Herlina, kenapa kamu tidak pernah menghormati kami, orang tuamu dan Syarif?”

“Bukan begitu Bu, tapi hanya mau menjelaskan siapa Aprilia ”

“Begitu? Kalau begitu jelaskan semuanya”

Ibu mendadak diam mendengar tantangan eyang. Papa hanya duduk terdiam.

“Rafiq, kalau sudah sehat dan siap bekerja, sampaikan ke nenek ya, Aprilia akan membuat persiapan penyambutan dan mempersiapkan hal – hal lainnya”.

“eyang pulang dulu, cepat sembuh ya. Herlina apa yang kau lakukan  menghancurkan wasiat ayahmu, jangan bertindak lebih Ibu. Lakukan apa yang kamu inginkan, tapi jangan lagi menyentuh rana keluarga Syarif”.

Aku menjadi heran mendengar pernyataan eyang, yang seakan memiliki suatu perang terselebung dengan ibu.

“Percaya bu, tadi hanya salah ngomong”

“Jangan keterusan salah omongnya ya….” sambil tersenyum kecut nenek keluar dari rumah.

            ========================================================

Siang ini, aku sedang bersantai di ruang tengah, saat pandangan mataku tertuju ke foto pernikahan ayah dan ibu. Tak sadar aku berdiri dan mendatangi foto tersebut, karena penasaran ingin melihat tanggal yang tertera pada foto tersebut. Tanggal yang tertulis adalah 14 September 1987. Saat ini aku berusia 29 tahun berarti aku lahir saat usia perkawinan orang tuaku  mencapai 3. Tapi tanggal brapa aku lahir, akupun tak tau.  Saat akan berbalik aku melihat sekrup pigura yang tertancap di dinding. Dulunya pasti ada foto ataupun hiasan yang pernah dipajang disitu. Jadi penasaran juga. Gambar apa ya, yang dulu ada disitu, kenapa diambil dari situ, ataukah mungkin pecah. Tapi, bagaimana pecah ya, kalau tergantung di tempat yang aman. Saat sedang berpikir, tiba – tiba ibu datang dan menyela

“Sedang ngapain”

“Bu disitu dulu ada foto apa? Kenapa dilepas?,

“Dimana”

“itu disamping foto pernikahan mama papa, ada sekrup  gantungan foto tuh” sambil menunjuk

“Oo itu,tajam juga matamu Fiq. Dulu ………ada lukisan ….. ehh burung. Lukisannya sudah lama jadi lembab. Belum sempat diganti dengan lukisan yang lain”.

“Mama suka lukisan burung?”

“Enggak, tapi itu hadiah kok,…….Iya hadiah dari seorang teman”

“Iya sich mama, lha wong di rumah ngga ada burung kok, kalau lukisan bunga baru sesuai dengan hobby Mama. Benar ngga ma?”

“Benar sekali anak pintar”.

“Ma tanggal berapa aku lahir Ma”

“Kamu lahir, tanggal 10 Oktober 1990”

“Ada foto foto waktu aku kecil ya ma”

“Ada tu banyak, dalam laci lemari itu” sambil menunjuk lemari sudut yang terletak dibawahnya foto perkawinan mereka.

“Rafiq lihat ya ma”

“Yoi, mama lihat mbok Imah ya” sambil menuju ke dapur

Aku mengeluarkan beberapa album, dan mulai menelitinya. Ada foto-fotoku saat aku bayi, umur setahun sampai TK. Ada beberapa foto saat kami jalan jalan dengan eyang dan kakek, juga dengan Om Syarif dan Tante Winda.  Belum ada Aprilia  saat  itu, karena tidak ada foto Aprilia bersama kami. Ataukah dia ditinggal di rumah. Saat membuka album foto berikutnya, terdengar suara bell.

“Pak Hasan, tolong buka pintunya” teriak ibu

“Baik Nyonya”

Tak berapa lama, Rista muncul di ruang tengah

“Hi sayang, lagi ngapain”

“Lihat foto foto kecil”

“Sudah bisa mengingat masa kecilnya”

“Belum, tapi foto foto tak lihat setidaknya menggambar begitu aku, dicintai dan disayangi oleh keluargaku”

“ Perjalanan ceritanya, baru dimulai kecil sampai SD?”

“Belum baru lihat foto bayi sampai TK. Nanti dilanjut lagi. Bagaimana kabarmu sehat”

“Alhamdulilah”

“Ris, bagaimana aku dulu? Apakah seorang teman yang baik, sorang pria yang bertanggung jawab ataukah aku seorang lelaki yang bajingan”

“Kamu seorang anak yang baik, untuk kedua orang tuamu karena seorang anak yang patuh. Seorang lelaki yang baik,  yang bertanggung jawab”

“Apakah aku tidak pernah menyakitimu”

“Hi Rista, Tante tadi lagi di belakang sama Mbok Imah. Gimana kabar mamamu… sehat”

“Sehat tante, ada salam dari mama” Sambil cipika cipika dengan ibu.

“Rista ikut makan bersama kami yuk, kebetulan makanannya sudah siap”.

“Senang sekali tante kalau diajak”

Maka rasa ingin tahukupun harus kukubur dulu, dan berjalan keruang makan, mengikuti ibu dan Rista yang jalan sambil berangkulan.

====================================================================

Siang ini  sangat terasa panas. Aku yang berada di dalam rumahpun merasakan panasnya. Untuk menghilangkan dahaga, aku turun ke ruang makan untuk mengambil minuman dingin. Memasuki ruang tengah, terlihat mbok Imah yang sedang nonton film Hindustan. Biasalah film Hindustan, selalu dibarengi dengan drama musikal. Tidak sadar aku mengikuti lagu yang dinyanyikan dalam film tersebut

Kyunki tum hi ho …………. Ab tum hi ho

Zindagi ab tum hi ho ……….Chain bhi,

Mera dard bhi …….Meri aashiqui ab tum hi ho

Tera mera rishta hai kaisa

Ik pal door gawara nahi

Tere liye har roz hai jeete

Tujh ko diya mera waqt sabhi

Koi lamha mera na ho tere bina

Har saans pe naam tera

Aku tersadar dan berhenti bernyanyi, saat melihat mbok Imah menatapku dengan heran

“Kenapa Mbok Imah”

“Aden masih ingat lagu itu”

“Memangnya aku sering menyanyikan lagu ini”

“Iya, dulu saat masih ……”

“Saat masih apa Mbok Imah?”

“Saat masih muda?”

“Memangnya aku sudah tua sekarang”

“Waduh salah ngomong lagi, maksud mbok Imah, waktu Aden masih di rumah ini”

“Memangnya aku pernah tidak di rumah ini?”,

“Waduhhh kok tambah salah, ngga Aden di rumah ini terus”

“Ayo mbok Imah, jangan bohong….. jujur”

“Jujur apa?” Ibu yang  masuk ke ruang tengah langsung bertanya

“Ini ma, katanya mbok Imah dulu waktu aku tinggal disini, aku suka nyanyi lagu India, yang baru saja dinyanyikan di film Hindustan itu” kataku sambil menunjuk ke TV

“Lagu apa toh Mbok”

“Tum Hi Ho, nyonya”

“iya benar, kamu ingat kalau kamu senang nyanyikan lagu itu?”

“Ngga ingat ma, hanya tadi aku kan ikut nyanyi. Makanya aku tanya ke mbok Imah, katanya aku suka nyanyi lagu itu saat aku tinggal disini. Emangnya aku pernah tinggal ditempat lain ma”

“Oo iya, kamu khan pernah tinggal di Singapura, saat kuliah dulu. Kan sudah mama cerita kalau S2mu di Singapura. Apa kamu lupa ceritanya mama ya?”

“oo maksud Mbok Imah itu… tak  kira apa”

“Iya Den, itu maksud mbok Imah. Sudah ya, silahkan dilanjut nontonya, Mbok Imah mau lihat jemuran dulu”. Mbok Imah terlihat tergesa gesa berdiri menuju pekarangan belakang, dibawah tatapan menyelidik ibu.

“Kenapa ma, lihat mbok Imah kayak orang marah gitu”

“enggalah, kenapa marah” sambil tertawa ibu mengambil remote dan mengganti program channel.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *